MASA KEKUASAAN TIGA KERAJAAN BESAR USMANI SAFAWI MUGHAL
Makalah
Disusun Guna Memenuhi
Tugas
Mata Kuliah: Sejarah
Peradaban Islam
Dosen Pengampu: SITI
FATIMAH, M.H.I
ABDULLAH
MUZAKIR ( 1502090052 )
Kelas D
FAKULTAS SYARIA’T DAN
EKONOMI ISLAM
PROGRAM STUDI HUKUM
EKONOMI SYARI’AT
STAIN JURAI SIWO
2015
I.
PENDAHULUAN
Setelah
khilafah abbasiyah di Baghdad runtuh akibat serangan tentara mongol, politik
islam mengalami kemunduruan secara drastis. Wilayah kekuasaanya tercabik-cabik
dalam beberapa kerajaan kecil yang satu sama lain bahkan saling memerangi
beberapa peninggalan budaya dan peradaban islam banyak yang hancur akibat
serangan bangsa mongol itu.
Keadaan
politik umat islam secara keseluruhan baru mengalami kemajuan kembali setelah
muncul dan berkembangnya tiga kerajaa besar: Usmani di turki, Safawi di Persia
Mughal di india. Kerajaa usmani, di samping yang pertama berdiri, juga yang
terbesar dan paling lama bertahan di banding dua kerajaan lainnya.
Dalam makalah ini akan
diuraikan secara singkat sejarah kemunculan, perkembangan dan kemajuan, serta
faktor kemunduran dalam perjalanan sejarah ketiganya.
II. RUMUSAN MASALAH
A. KERAJAAN USMANI
a.1 Bagaimana
Sejarah Kerajaan Usmani di Turki?
a.2 Bagaimana
Perkembangan dan Kemajuan Kerajaan Usmani di Turki?
a.3 Apa
Faktor yang Menyebabkan Kemunduran Kerajaan Usmani di Turki?
B. KERAJAAN SAFAWI
b.1 Bagaimana
Sejarah Kerajaan Safawi di Persia?
b.2 Bagaimana
Perkembangan dan Kemajuan Kerajaan Safawi di Persia?
b.3 Apa
Faktor yang Menyebabkan Kemunduran Kerajaan Safawi di Persia?
C. KERAJAAN MUGHAL
c.1 Bagaimana
Sejarah Kerajaan Mughal di India?
c.2 Bagaimana
Perkembangan dan Kemajuan Kerajaan Mughal di India?
c.3 Apa
Faktor yang Menyebabkan Kemunduran Kerajaan Mughal di India?
III. PEMBAHASAN MASALAH
A.
a.1 Sejarah
Kerajaan Usmani di Turki
Awal berdirinya
dinasti Utsmaniyah terkemas dalam legenda, dan beberapa fakta sejarah yang kuat
di ketahui sebelum tahun 1300. Dinasti ini tampaknya berasal dari suku Qayigh
Oghuz dan memimpin sekelompok nomadic di asia kecil. Dengan demikian mereka
merupakan bagian dari gelombang besar orang Turkmen yang datang dari timur dan
membuat mundur Byzantium.[2]
Pendiri kerajaan ini
adalah bangsa Turki dari kabilah Oghuz yang mendiami daerah mongol dan daerah
utara negeri China. Dalam jangka waktu kira-kira 3 abad, mereka pindah ke
Turkistan kemudian Persia dan Irak. Mereka masuk Islam sekitar abad ke 9/10 M.
Ketika mereka menetap di Asia tengah pada abad ke-13 M, mereka mendapat
serangan dan tekanan dari Mongol, akhirnya mereka melarikan diri ke Barat dan
mencari tempat perlindungan di tengah-tengah saudara-saudaranya yaitu
orang-orang Turki Seljuk, di dataran tinggi Asia kecil. Dibawah pimpinan
Ertoghrul, mereka mengabdikan diri kepada Sultan Alaudin II yang kebetulan
sedang berperang melawan Bizantium. Karena bantuan mereka inilah, Bizantium
dapat dikalahkan dan sultan Alaudin mendapat kemenangan. Sultan Alaudin memberi
imbalan tanah di Asia kecil yang berbatasan dengan Bizantium. Sejak itu, mereka
terus membina wilayah barunya dan memilih kota Syukud sebagai ibukota.
Ertoghrul meninggal
dunia tahun 1289 M. Kepemimpinannya dilanjutkan oleh putranya, yaitu Usman.
Usman memerintah antara tahun 1290 – 1326 M. Sebagaimana ayahnya, ia banyak
berjasa kepada Sultan Alaudin II dengan keberhasilannya menduduki
benteng-benteng Bizantium yang berdekatan dengan kota Broessa. Pada tahun 1300
M, bangsa Mongol menyerang kerajaan Seljuk dan sultan Alaudin II terbunuh.
Kerajaan Seljuk Rum ini kemudian terpecah-pecah dalam berdiri.
Penguasa pertamanya adalah Usman yang sering disebut Usman I.[3]
Sejarah khilafah
Utsmaniyah tergolong sejarah yang samar, penuh di kelilingi berbagai perkara
syubhat (remang-remang). Ini merujuk pada penyimpangan yang terjadi pada masa
pembentukannya. Pemerintahan ini di bentuk oleh kekuatan musuh-musuhnya. Pasalnya
para pendirinya adalah orang-orang asing yang tidak memiliki prinsip keadilan,
atau orang arab yang pernah terlibat pertikaian dengan orang-orang Utsmaniyah
pada masa tertentu. Atau, orang-orang turki sekuler yang tunduk kepada
undang-undang baru sesudah kejatuhan khilafah.
Agar kita berlaku adil
terhadap fase sejarah ini, maka perlu saya sebutkan segi-segi positif dan
negatif tentang pemerintahan ini menurut apa yang saya dapatkan dari
sejumlah referensi.
1. Kebaikan-kebaikan khilafah utsmaniyah
a) Perluasan
wilayah negeri-negeri islam.
b) Menghadapi
orang-orang salib dalam berbagai front.
c) Kekaisaran
Utsmaniyah menghadapi Zionisme.
d) Kekuasaan
utsmaniyah telah memerangi orang-orang Syiah Rafidhah yang menampilkan diri
dalam bentuk pemerintahan safawid.
e) Berperan
dalam menyebarkan islam.
f) Masuknya
orang-orang utsmaniyah di sebagian wilayah Islam telah melindunginya dari
bencana penjajah yang telah menimpa wilayah lain.
g) Pemerintahan
ini telah menguasai sebagian negeri-negari. dll
2. Kejelekan-kejelekannya
a) Puncak
kejelekannya adalah system kekuasaan mutlak.
b) Krisis
ekonomi dan social.
d) Melemahnya
bangsa Arab.
e) Tidak
adanya kesadaran Islam yang benar pada mereka.
f) Di
abaikannya bahasa Arab yang merupakan bahasa Al-quran dan Al-hadits.
g) Sebagian
penguasa di ketahui membunuh saudaranya karena takut menjadi pesaing. dll
a.2 Perkembangan
dan Kemajuan Kerajaan Usmani di Turki
1. Perkembangan
Setelah Usman I
mengumumkan dirinya sebagai Padisyah Al Usman (raja besar
keluarga Usman) tahun 699 H (1300 M), wilayah kerajaan dapat diperluasnya. Ia
menyerang daerah perbatasan Bizantium dan menaklukkan Broessa tahun 1317 M,
kemudian pada tahun 1326 M dijadikan sebagai ibu kota kerajaan. Pada
masa pemerintahan Orkhan, kerajaan Turki Usmani ini dapat menaklukkan Azmir,
Thawasyanli, Uskandar, Ankara dan Gallipoli. Daerah ini adalah bagian benua
Eropa yang pertama kali di duduki kerajaan Usmani.
Selain memantapkan
keamanan dalam negeri, ia melakukan perluasan daerah ke benua Eropa. Merasa
cemas terhadap ekspansi kerajaan ke Eropa, Paus mengobarkan semangat perang.
Sejumlah besar pasukan sekutu Eropa disiapkan untuk memukul mundur Turki
Usmani, namun Sultan Bayazid I (1389-1403 M), dapat menghancurkan pasukan
sekutu Eropa tersebut. Ekspansi Kerajaan Usmani sempat berhenti
lama. karena adanya tekanan dan serangan dari pasukan Timur Lenk ke
Asia kecil. Pertempuran hebat terjadi antara tahun 1402 M dan pasukan Turki
mengalami kekalahan. Kekalahan tersebut membawa dampak yang buruk bagi Kerajaan
Usmani yaitu banyaknya penguasa-penguasa Seljuk di Asia kecil yang melepaskan
diri dari genggaman Turki Usmani. Begitu pula dengan Serbia dan Bulgaria juga
memproklamasikan kemerdekaan. Pada waktu itu putra-putra Bayazid saling berebut
kekuasaan, tetapi hal itu dapat diatasi oleh Sultan Muhammad I (1403-1421 M).
Usaha beliau yang pertama yaitu meletakkan dasar-dasar keamanan dan
perbaikan-perbaikan dalam negeri.
Usaha beliau kemudian
diteruskan oleh Sultan Murad II (1421-1451 M). Turki Usmani mengalami
kemajuannya pada masa Sultan Muhammad II (1451-1484 M) atau Muhammad Al-Fatih
(1451-1484 M). Beliau mengalahkan Bizantium dan menaklukkan Konstantinopel pada
tahun 1453 M yang merupakan kekuatan terakhir Imperium Romawi Timur. putra Sultan
Salim I, yaitu Sulaiman I (1520-1526 M) dan berhasil menundukan Irak, Belgrado,
pulau Rodhes, Tunis Budapest dan Yaman. Masa beliau ini merupakan puncak
keemasan dari kerajaan Turki Usmani. Sebab, setelah Sultan Sulaiman I meninggal
dunia, terjadilah perebutan kekuasaan antara putera-puteranya dan itu
menyebabkan kerajaan Usmani mulai mengalami kemunduran. Akan tetapi, meskipun
terus mengalami kemunduran, kerajaan ini untuk masa beberapa abad masih
dipandang sebagai negara yang kuat, terutama dalam bidang militer.[5]
2. Kemajuan
Kemajuan dan
perkembangan ekspansi kerajaan Usmani yang demikian luas dan berlangsung dengan
cepat itu diikuti pula oleh kemajuan-kemajuan dalam bidang-bidang kehidupan
yang lain. Yang terpenting diantaranya adalah sebagai berikut:
a) Bidang militer dan
pemerintahan
Para pemimpin kerajaan
usmani pada masa-masa pertama, adalah orang-orang yang kuat, sehingga kerajaan
dapat melakukan ekspansi dengan cepat dan luas. Kekuatan militer kerajaan ini
mulai diorganisasi dengan baik dan teratur, namun tidak lama setelah kemenangan
tercapai, kekuatan militer yang besar ini di landa kekisruhan. Kesadaran
prajuritnya menurun, mereka merasa dirinya sebagai pemimpin-pemimpin yang
berhak menerima gaji. Tetapi semuanya dapat di atasi oleh orkhan. Selanjutnya,
Orkhan mengadakan perombakan dalam tubuh organisai militer dalam bentuk mutasi
personel-personel pimpinan dan perombakan dalam keanggotaan. Bangsa-bangsa non
Turki dimasukkan sebagai anggota. Progam ini ternyata berhasil dengan
terbentuknya kelompok militer baru yang disebut jenissari atau inkisyariyah.
Pasukan ini yang dapat mengubah negara Usmani menjadi mesin perang yang paling
kuat dan memberikan dorongan yang amat besar dalam penaklukan negeri-negeri non
muslim. Faktor utama yang mendorong kemajuan ini ialah tabiat bangsa turki itu
sendiri yang bersifat militer, berdisiplin, dan patuh terhadap peraturan.
Keberhasilan ekspansi
tersebut dibarengi pula dengan terciptanya jaringan pemeritahan yang teratur.
Untuk mengatur pemerintahan Negara, dimasa Sultan Sulaiman I. disusun sebuah
kitab undang-undang (qanun). Kitab tersebut diberi nama Multaqa
al-Abhur, yang menjadi pegangan hukum bagi kerajaan Turki Usmani sampai
datangnya reformasi pada abad 19. Karena jasa inilah Sultan Sulaiman
I di tambah gelar al-Qanuni.
b) Bidang ilmu
pengetahuan dan budaya
Turki Usmani lebih
banyak memfokuskan kegiatan mereka dalam bidang militer, sementara dalam ilmu
pengetahuan, mereka tidak begitu kelihatan menonjol. Namun demikian, mereka
banyak berkiprah dalam pengembangan seni arsitektur islam berupa pembangunan
yang indah seperti Masjid Jami’ Sultan Muhammad Al-Fatih. Ada juga Masjid Agung
Sulaiman dan Masjid Abi Ayyub al-Anshari. Dan Aya Sopia merupakan masjid yang
terkenal karena keindahan kaligrafinya yang asalnya adalah gereja Kristen. Pada
masa Sulaiman di kota-kota lainnya juga banyak dibangun masjid, sekolah, rumah
sakit, makam jembatan, saluran air, vila dan pemandian umum. Disebutkan bahwa
235 buah bangunan itu dibangun dibawah koordinator Sinan, seorang arsitek asal
Anatolia.
c) Bidang keagamaan
Agama dalam tradisi
masyarakat Turki mempunyai peranan besar dalam sosial dan politik. Masyarakat
digolongkan berdasarkan agama, dan kerajaan sendiri sangat terikat dengan
syariat sehingga fatwa ulama menjadi hukum yang berlaku.
Agama Islam pada
masa itu berkembang menjadi dua tarekat utama, yaitu Tarekat Bektasyi dan
Maulawi. Pada masa Sultan Abdul Hamid II, Syaikh Husein al-Jisri menulis
Kitab al-Hushun al-Hamidiyah. Artinya, benteng pertahanan Abdul
Hamid. Kitab itu oleh Sultan Hamid II dimaksudkan untuk melestarikan aliran
yang dianutnya.[6]
a.3 Faktor
Penyebab Kemunduran Kerajaan Usmani di Turki
Kemunduran Turki
Usmani terjadi setelah wafatnya Sulaiman Al-Qonuni. Hal ini disebabkan karena banyaknya
kekacauan yang terjadi setelah Sultan Sulaiman meninggal diantaranya perebutan
kekuasaan antara putera beliau sendiri. Para pengganti Sulaiman sebagian besar
orang yang lemah dan mempunyai sifat dan kepribadian yang buruk. Juga karena
melemahnya semangat perjuangan prajurit Usmani yang mengakibatkan kekalahan
dalam menghadapi beberapa peperangan. Ekonomi semakin memburuk dan system
pemerintahan tidak berjalan semestinya. Selain faktor tersebut, ada beberapa
faktor lain yang menyebabkan Kerajaan Usmani mengalami kemunduran. Faktor
tersebut adalah sebagai berikut:
1. Wilayah kekuasaan yang
sangat luas
2. Heterogenitas penduduk
3. Kelemahan para
penguasa
4. Budaya pungli
5. Pemberontakan tentara
jenissari
6. Merosotnya ekonomi
7. Terjadinya stagnasi
dalam lapangan ilmu dan teknologi
B.
b.1 Sejarah
Kerajaan Safawi di Persia
Kerajaan Safawi ini
berasal dari gerakan Tarekat di Ardabil sebuah kota di Azerbeijan yang berdiri
hampir bersamaan dengan berdirinya kerajaan Usmani di Turki. Nama Safawiyah
diambil dari nama pendirinya Safi al-Din (1252-1334M). Safi al-Din keturunan
dari Imam syi’ah yang keenam, Musa al-Kazhim. Dalam waktu yang tidak lama
tarekat ini berkembang pesat di Persia, Syria, dan Anatolia.
Kecenderungan memasuki
dunia politik, hal itu mendapat wujud konkretnya pada masa kepemimpinan Juneid
(1447-1460 M). Dinasti Safawi memperluas gerakannya dengan menambahkan kegiatan
politik pada kegiatan keagamaan. Perluasan kegiatan keagamaan ini menimbulkan
konflik antara Juneid dengan penguasa Kara Koyunlu (Domba Hitam), salah satu
suku bangsa Turki yang berkuasa di wilayah itu. Dalam konflik tersebut, Juneid
kalah dan diasingkan ke suatu tempat. Dari tempat baru ini ia mendapat
perlindungan dari penguasa Diyar Bakr, AK-Koyunlu (domba putih), juga satu suku
bangsa Turki. Ia tinggal di istana Uzun Hasan, yang ketika itu menguasai
sebagian besar Persia. Pada tahun 1460 M, ia mencoba merebut Sircassia tetapi
pasukan yang di pimpinnya dihadang oleh tentara Sirwan dan Ia terbunuh dalam
pertempuran tersebut. Ketika itu anak Juneid, Haidar masih kecil dan dalam
asuhan Uzun Hasan. Ketika itu, kepemimpinan gerakan Safawi baru bisa diserahkan
kepadanya secara resmi pada tahun 1470 M. Hubungan Haidar dengan Uzun Hasan
semakin erat setelah Haidar mengawini salah seorang putri Uzun Hasan. Dari
perkawinan ini lahirlah Ismail yang di kemudian hari menjadi pendiri kerajaan
Safawi di Persia.[7]
b.2 Perkembangan
dan Kemajuan Kerajaan Safawi di Persia
1. Perkembangan
Di bawah pimpinan
Ismail, pada tahun 1501 M, pasukan Qizilbash menyerang dan
mengalahkan AK Koyunlu di Sharur, dekat Nakhchivan. Pasukan ini terus berusaha memasuki
dan menakhlukkan Tabriz, Ibu Kota AK Koyunlu dan berhasil merebut serta
mendudukinya. Di kota ini Ismail memproklamasikan dirinya sebagai raja pertama
Dinasti Syafawi. Ia disebut juga Ismail I.
Ismail I berkuasa
sekitar 23 tahun (1501-1524 M). Pada sepuluh tahun pertama ia berhasil
memperluas wilayah kekuasaannya. Ia dapat menghancurkan sisa-sisa kekuatan AK
Koyunlu di Hamadan (1503 M), menguasai propinsi kaspia di Nazandaran, Gurgan
dan Yazd (1504 M), Diyar Bakr (1505-1507 M), Baghdad dan daerah barat daya
Persia (1508 M), Sirwan (1509 M), dan Khurasan (1510 M). Hanya dalam waktu
sepuluh tahun itu wilayah kekuasaannya sudah meliputi seluruh Persia dan bagian
timur Bulan Sabit Subur (Fortile Crescent).
Peperangan dengan
Turki Utsmani terjadi pada tahun 1514 M di Chaldiran, dekat Tabriz.
Karena keunggulan organisasi militer kerajaan Utsmani, dalam peperangan ini
Ismail I mengalami kekalahan, malah Turki Usmani di bawah pimpinan Sultan Salim
dapat menduduki Tabriz. Kerajaan Safawi terselamatkan dengan pulangnya Sultan
Usmani ke Turki karena terjadi perpecahan dikalangan militer Turki di
negerinya.
Rasa permusuhan dengan
kerajaan Usmani terus berlangsung sepeninggal Ismail. Peperangan antara dua
kerajaan besar Islam ini terjadi beberapa kali pada zaman pemerintahan Tahmasp
I (1524 - 1576 M), Ismail II (1576 - 1577 M) dan Muhammad Khudabanda (1577 -
1587 M). Pada masa tiga raja tersebut, kerajaan Safawi dalam keadaan lemah.
Disamping karena sering terjadi peperangan melawan kerajaan Usmani yang lebih
kuat, juga karena sering terjadi pertentangan antara kelompok-kelompok di dalam
negeri.
Kondisi memprihatinkan
ini baru bisa diatasi setelah raja Safawi kelima, yaitu Abbas I naik tahta
(1588 - 1628 M). Langkah-langkah yang ditempuh oleh Abbas I untuk memulihkan
politik kerajaan Safawi adalah sebagai berikut:
Pertama, mengurangi
dominasi pasukan Qizilbash dengan cara membentuk pasukan baru
yang anggotanya terdiri dari budak-budak tawanan perang bangsa Georgia, Armenia,
Sircassia. Kedua, mengadakan perjanjian damai dengan Turki
Usmani, yaitu ia rela melepaskan wilayah Azerbaijan, Georgia, dan sebagian
wilayah Luristan. Dia juga berjanji tidak akan menghina tiga khalifah (Abu
Bakar, Umar, Usman). Sebagai jaminan atas perjanjian itu, ia menyerahkan
saudara sepupunya, Haidar Mirza sebagai sandera di Istambul.
Usaha-usaha yang
dilakukan Abbas I tersebut berhasil membuat kerajaan Safawi menjadi kuat
kembali. Ia kembali melirik wilayah-wilayahya dulu yang sempat lepas. Kemudian
Abbas I menyusun kembali kekuatan militer yang kuat. Setelah kekuatan
militer terbina dengan baik, ia berusaha merebut kembali wilayah kekuasaannya
dari Turki Usmani. Pada tahun 1602 M, disaat Tuki Usmani berada dibawah
kepemimpinan Sultan Muhammad III, Abbas I menyerang dan berhasil menguasai
Tabriz, Sirwan, dan Baghdad. Sedangkan kota-kota Nakchivan, Erivan, Ganja, dan
Tiflis dapat dikuasai tahun 1605-1606 M. Selanjutnya pada tahun 1622 M pasukan
Abbas I berhasil merebut kepulauan Hurmuz dan mengubah pelabuhan Gumrun menjadi
pelabuhan Bandar Abbas.
Masa kekuasaan Abbas I
merupakan puncak kejayaan kerajaan Safawi. Secara politik, ia mampu mengatasi
berbagai kemelut didalam negeri yang mengganggu stabilitas negara dan berhasil
merebut kembali beberapa wilayah-wilayah yang pernah di rebut oleh kerajaan
lain pada masa raja-raja sebelumnya.
Selain itu kerajaan
Safawi juga mengalami kemajuan dalam beberapa bidang, antara lain:
1. Kemajuan
a) Bidang
ekonomi
Bukti nyata
perkembangan perekonomian Safawi adalah dikuasainya kepulauan hurmuz dan
pelabuhan Gumrun kemudian diubah menjadi Bandar Abbas pada masa Abbas I. Maka
salah satu jalur dagang yang menghubungkan antara timur dan berat sepenuhnya
menjadi milik kerajaan Safawi. Selain itu kerajaan Safawi juga mengalami
kemajuan di sektor pertanian terutama di daerah Bulan Sabit Subur (fortile
crescent).
b) Bidang
ilmu pengetahuan
Bangsa Persia dalam
sejarah Islam dikenal sebagai bangsa yang berperadaban tinggi dan berjasa membangankan
ilmu pengetahuan. Oleh karena itu, tidak mengherankan apabila pada
masa kerajaan Safawi tradisi keilmuwan tersebut terus berlanjut.
Sehingga muncul ilmuan seperti Baha al-Din Al-Syaerazi, Sadar Al-Din
Al-Syaerazi, Muhammad Baqir Ibn Muhammad Damad, masing-masing ilmuan dibidang
filsafat sejarah, teolog, dan seorang yang pernah mengadakan observasi mengenai
kehidupan lebah-lebah.
c) Bidang
pembangunan fisik dan seni
Kemajuan seni
arsitektur ditandai dengan berdirinya sejumlah bangunan megah, menjadi ibukota
yang sangat indah. Di kota ini, berdiri sejumlah bangunan-bangunan besar
seperti masjid-masjid, rumah sakit-runah sakit,
sekolah-sekolah, jembatan raksasa diatas Zende rud dan istana Chihil
sutun. Kota Isfahan juga diperindah dengan taman-taman wisata.[8]
b.3 Faktor
peyebab Kemunduran Kerajaan Safawi di Persia
Sepeninggal Abbas I,
kerajaan Safawi berturut-turut diperintah oleh enam raja, yang pada masa
raja-raja tersebut kondisi kerajaan Safawi tidak menunjukkan grafik naik dan
berkembang, tetapi justru memperlihatkan kemunduran yang akhirnya membawa
kepada kehancuran.
Faktor kemunduran dan
kehancuran kerajaan Safawi adalah:
1. Konflik berkepanjangan
dengan kerajaan Usmani
2. Dekadensi moral yang
melanda sebagian para pemimpin kerajaan Safawi
3. Pasukan Ghulam yang
dibentuk Abbas I tidak memiliki semangat perang tinggi seperti Qizilblash
4. Seringnya terjadi
konflik intern dalam bentuk perebutan kekuasaan di kalangan keluarga istana.[9]
C.
c.1 Sejarah
Kerajaan Mughal di India
Kerajaan Mughol
berdiri seperempat abad sesudah berdirinya kerajaan safawi. Kerajaan ini
termasuk dari tiga kerajaan besar Islam dan kerajaan inilah termuda. Awal
kekuasaan Islam di India terjadi pada masa khalifah Al-walid dari Dinasti Bani
Umayah, di bawah pimpinan Muhammad Ibn Qasim.
Kerajaan Mughol di
India dengan Delhi sebagai ibu kota, di dirikan oleh Zahirrudin Babur (
1482-1530 M ), salah satu dari cucu Timur lenk. Ayahnya bernama Umar Mirza,
penguasa Ferghana. Babaur mewarisi daerah Ferghana dari orang tuanya pada Usia
11 tahun. Ia berambisi dan bertekad akan menaklukan kota terpenting di Asia
Tengah yaitu Samarkand pada waktu itu. Pada mulanya Babur mengalami kekalahan,
tetapi karena mendapat bantuan dari Raja Safawi kala itu yaitu Ismail I,
akhirnya berhasil menaklukan Samarkand (1494 M). Pada tahun 1504 M, ia
menduduki Kabul (Afganistan). Babur juga mampu menguasai Punjab dengan ibu
kotanya Lahore (1525 M), kemudian menguasai Delhi setelah bertempur di Panipat
sebagai pemenang. Dengan demikian, Babur dapat menegakkan pemerintahannya di
sana, maka berdirilah kerajaan Mughol di India.[10]
Adapun latar belakang
sejarah Masa Mughal ini menurut apa yang saya dapatkan dari sejumlah
referensi.
Ciri-ciri
khas Masa Mughal
Masa Mughal dalam
sejarah kebudayaan Islam mempunyai cirri-ciri khas sendiri antaranya yaitu:
1. Berpindahnya pusat
ilmu
2. Pendukung sastera
3. Ilmu-ilmu baru
4. Kurangnya kutubkhanah
5. Membanyak sekolah dan
mausu’at
6. Penyelewengan ilmu
Agama
bangsa mughal
bangsa mughal tidak
memeluk salah satu agama Samawi dari ketiga agama Samawi. Padahal mereka hidup
dan bergaul dengan pengikut agama Yahudi, Kristen dan Islam. Mereka menyembah
matahari dan bersujud kepadanya ketika terbit. Syari’at mereka tidak mengharamkan
apapu kepada mereka dan mereka makan hewan apa saja yang mereka temui meski
sudah jadi bangkai.[11]
c.2 Perkembangan
dan Kemajuan Kerajaan Mughal di India
1. Perkembangan
Sepeninggalan babur
tahun 1530 M, tahta kerajaan Mughal diteruskan oleh anaknya yang bernama
Humayun. Walaupun Babur telah berhasil menegakkan Mughal dari serangan musuh, namun
Humayun tetap saja menghadapi tantangan. Selama roda kepemimpinannya, kondisi
pemerintahan tidak pernah stabil. Selain banyak menghadapi peperangan, ia harus
menghadapi gerakan pemberontakan Bahadur Syah penguasa Gujarat dan
pertempuran besar dengan Sher Khan di Kanauj pada tahun 1540 M. dan pada
tahun 1556 M, Humayun meninggal dunia.
Humayun digantikan
oleh anaknya, yaitu Akbar yang berusia 14 tahun, karena ia masih muda maka
urusan kerajaan diserahkan pada Bairam Khan, seorang Syi’i. Pada masa Akbar
inilah kerajaan Mughal mencapai keemasannya.
Setelah Akbar dewasa,
Akbar berusaha menyingkirkan Bairam Khan yang sudah mempunyai pengaruh sangat
kuat dan terlampau memaksakan aliran Syi’ah. Dan Bairam Khan memberontak, pada
tahun 1561 M, tetapi tetap bisa dikalahkan oleh Akbar di Jullandur.
Kemajuan yang telah
dicapai oleh Akbar dapat dipertahankan oleh tiga sultan berikutnya, yaitu
Jehangir (1605-1628 M), Syah Jehan (1628-1658 M) dan Aurangzeb (1658-1707 M).
Ketiganya merupakan raja-raja besar dan kuat. Setelah itu, kemajuan kerajaan
Mughal tidak dapat di pertahankan oleh raja-raja berikutnya.[12]
2. Kemajuan
a) Bidang Ekonomi
Kerajaan Mughal dapat
mengembangkan program pertanian, pertambangan, dan perdagangan. Di sektor
pertanian, komunikasi antara pemerintah dan petani diatur dengan baik. Hasil
pertanian yang terpenting adalah biji-bijian, padi, kacang, tebu,
sayur-sayuran, rempah-rempah, tembakau, kapas, nila, dan bahan-bahan celupan.
b) Bidang Seni
Ø Karya seni yang
menonjol adalah karya sastra gubahan penyair istana, baik yang berbahasa Persia
maupun India. Penyair yang terkenal adalah Malik Muhammad Jayazi.
Ø Karya-karya arsitektur
yang indah dan mengagumkan antara lain:
- Istana Fatpur Sikri di
Sikri, vila, dan Masjid-masjid yang indah.
- Pada masa Syah Jehan,
di bangun masjid berlapiskan mutiara dan Taj Mahal di Agra, Masjid
Raya Delhi dan Istana Indah di Lahore.[13]
Dampak
kekuasaan Mughal
Dampak negative
tentunya lebih banyak biala di bandingkan dampak positifnya.
Kehancuran
tampak jelas di mana-mana dari serangan Mongol sejak dari wilayah timur hingga
ke barat. Kehancuran kota-kota dengan dengan bangunan yang indah-indah dan
perpustakaan-perpustakaan yang mengkoleksi banyak buku memperburuk situasi umat
islam. Pembunuhan terhadap umat Islam yang tidak berdosa.
ada pula
dampak posotif dengan berkuasnya dinasti mongol ini setelah para pemimpinnya
memeluk agama Islam. Mereka berasimilasi dan bergaul dengan masyarakat muslim
dalam jangka panjang, seperti yang di lakukan oleh Gazan Khan (1295-1304)
yang menjadikannya Islam sebagai agama resmi di kerajaanya.[14]
c.3 Faktor
Penyebab Kemunduran Kerajaan Mughal di India
Ada beberapa faktor yang
menyebabkan kekuasaan dinasti mughal itu mundur pada satu setengah abad
terakhir dan membawa kepada kehancuran pada tahun 1858 M. Adapun faktor-faktor
tersebut adalah:
1. Terjadi
stagnasi dalam pembinaan kekuatan militer sehingga operasi militer Inggris di
wilayah-wilayah pantai tidak dapat segera dipantau oleh kekuatan maritime
Mughal. Begitu juga kekuatan pasukan darat. Bahkan, mereka kurang terampil
dalam mengoperasikan persenjataan Mughal sendiri.
2. Kemerosotan
moral dan hidup mewah di kalangan elit politik yang mengakibatkan pemborosan
dalam penggunaan uang Negara.
3. Pendekatan
Aurangzeb yang terlampau “kasar” dalam melaksanakan ide-ide puritan dan
kecenderungan asketisnya, sehingga konflik antar agama sangat sukar diatasi
oleh sultan-sultan sesudahnya.
4. Semua
pewaris tahta kerajaan pada paruh terakhir adalah orang-orang lemah dalam
bidang kepemimpinan.[15]
IV. KESIMPULAN
Dari uraian di
atas singkat tentang kemunduran tiga kerajaan besar
islam (Usmani Safawi dan Mughol) di atas, dapat ditarik kesimpulan
bahwa, tiga kerajaan tersebut merupakan kerajaan islam terbesar, karena dalam
waktu kurun yang panjang setelah Bani Abbas mengalami keruntuhan dengan
ditandainya jatuhnya kota Baghdad ke tangan bangsa Mongol pada tahun 1258
M, setelah itu umat islam mengalami kemunduran. Umat islam bangkit kembali
dengan adanya kerajaan Usmani yang mendiami daerah Mongol dan daerah utara
Cina, kemudaian kerajaan Safawi di Persia dan kerajaan Mughal di India.
Akan tetapi, dalam
perjalanannya ketiga kerajaan tersebut mengalami kemunduran. Hal yang
paling penyebab kemunduran ketiga kerajaan tersebut antara lain adalah :
1. Adanya dekadensi moral
yang melanda para pemimpin
2. Semua pewaris tahta
kerajaan pada paruh terakhir adalah orang-orang lemah dalam bidang kepemimpinan
3. Adanya tradisi korupsi
4. Perebutan kekuasaan
V. PENUTUP
Demikian pemaparan
makalah yang dapat saya sampaikan, kritik dan saran sangat saya harapkan guna
untuk menjadi bahan acuan pembuatan makalah yang akan datang, semoga makalah
ini dapat bermanfaat untuk kita semua.
VI. DAFTAR PUSTAKA
Al-Usyairy,
Ahmad. Sejarah Islam. Akbar media eka sarana: Jakarta. 2003
Boswort, C.E. Dinasti
– Dinasti Islam. Penerbit mizzen: Bandung. 1993
Mufrodi, Ali. Islam
di Kawasan Kebudayaan Arab. Logos wacana ilmu: Jakarta. 1997
Sayyid Al-Wakil,
Muhammad. Wajah Dunia Islam. Pustaka Al-kautsar: Jakarta. 1998
Yatim, Badri. Sejarah
Peradaban Islam. PT raja grafindo persada: Jakarta. 2010


No comments:
Post a Comment
<b rel="quote">Catatan Anda</b>